Dolar masih cenderung menguat terhadap mata uang lainnya seiring dengan perubahan sikap Presiden Trump yang menyatakan akan lebih fleksibel perihal pengenaan tarif impor yang akan segera diberlakukan bulan depan. Setelah sejumlah bank sentral termasuk Fed, BOJ dan BOE mempertahankan suku bunga acuan sembari menunggu implementasi agenda ekonomi AS. Dengan Fed bersiap untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan, sedangkan Bank Sentral Jepang (BOJ) bersiap untuk menaikkan suku bunga acuan dan Bank Sentral Inggris (BOE) sepertinya masih belum tahu kapan akan mengubah suku bunga acuannya. Ketidakpastian akan kondisi ekonomi akibat agenda kenaikan tarif impor Presiden Trump serta kembalinya ketegangan geopolitik menjadi alasan pengalihan aset-aset beresiko tinggi. Israel kembali melakukan serangan udara di Gaza setelah perundingan damai fase 1 berakhir. Sementara pesawat nirawak Ukraina kembali melakukan serangan terhadap fasilitas militer udara Rusia membuat peluang terjadinya perdamaian semakin menipis. Dan menjadikan pengalihan ke aset safe haven termasuk mata uang dolar. Gubernur Fed Chicago - Austan Golsbee dan Gubernur Fed New York - John Williams sepakat bahwa terlalu dini menyimpulkan agenda ekonomi Presiden Trump dan Fed masih punya waktu yang cukup untuk menentukan langkah moneter yang tepat. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Fed - Jerome Powell pasca pertemuan moneter pekan lalu. Masih menjadi pertanyaan apakah agenda ekonomi Presiden Trump tersebut akan berdampak kembali pada terjadinya inflasi dengan mempertimbangkan adanya pengurangan pajak, perlawanan dari mitra dagang AS dan faktor lain yang terkait, baik langsung maupun tidak terhadap kebijakan moneter yang akan diambil oleh Fed kemudian. Meski demikian pasar masih memperkirakan Fed akan memangkas suku bunga acuan sebanyak 50 bps hingga akhir tahun ini yang terbagi menjadi 2 bagian. Pekan ini ada data PMI di sektor manufaktur dan jasa, data durable goods order, kepercayaan konsumen, pertumbuhan ekonomi GDP dan yang terpenting adalah data Personal Consumption Expenditure (PCE) yang akan dirilis pada penghujung pekan ini.
Yen terus terkoreksi meski tipis terhadap dolar seiring dengan langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) yang masih mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan moneter pekan lalu. Seperti halnya Fed, BOJ menunggu dampak dari agenda kenaikan tarif impor AS yang akan diberlakukan pekan depan. Sementara data inflasi di Jepang sedikit menurun dari 3.2% menjadi 3.0%, namun masih cukup jauh dari target 2% sehingga BOJ diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuan di tahun ini. Selain inflasi data di sektor tenaga kerja yang kuat juga menjadi alasan perlunya BOJ menaikkan suku bunga acuan karena upah eksekutif diperkirakan akan meningkat pesat dalam waktu dekat ini sehingga berpotensi mendongkrak inflasi.
Euro berlanjut melemah terhadap dolar seiring dengan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat antara Ukraina dengan Rusia. Drone Ukraina di akhir pekan kemarin kembali melakukan serangan di pangkalan militer udara Rusia yang membuat potensi perundingan damai akan terhenti. Dan anggaran yang sudah disiapkan oleh Jerman dan juga sedang dibahas oleh Uni Eropa akan menjadi percuma jika tidak tercapai perdamaian di kawasan Eropa. Hari ini ada data PMI di sektor manufaktur dan jasa.
Poundsterling juga terus melemah terhadap dolar setelah Bank Sentral Inggris (BOE) mempertahankan suku bunga acuannnya pekan lalu. Dan BOE sendiri masih belum berencana untuk memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat ini bahkan hingga akhir tahun nanti. Hari ini ada data PMI di sektor manufaktur dan jasa, data yang penting pekan ini di Inggris adalah data inflasi CPI yang akan dirilis pada hari Rabu, sebelum itu Gubernur BOE - Andrew Bailey dijadwalkan akan memberikan pidato yang juga akan dicermati oleh pasar.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures