Dolar kembali melemah terhadap mata uang lainnya kecuali terhadap Euro seiring dengan fundamental ekonomi yang menurun dan juga masih tidak pastinya agenda kenaikan tarif impor AS yang akan segera diberlakukan. Presiden Trump Senin lalu menyatakan tidak akan menerapkan kenaikan tarif impor pada semua sektor industri dan bahkan akan dibebaskan untuk negara-negara tertentu pada 2 April mendatang. Namun dengan belum dijelaskannya secara rinci membuat kekhawatiran tersebut masih ada. Meski demikian optimisme akan perubahan sikap Presiden Trump yang melunak diharapkan tidak akan berdampak banyak pada indikator ekonomi lainnya terutama inflasi. Sementara itu data kepercayaan konsumen mengalami penurunan menjadi 92.9 yang lebih rendah dari perkiraan 94.2 meskipun data periode sebelumnya direvisi meningkat dari 98.3 menjadi 100.1. Konsumen sepertinya masih pesimis akan prospek ekonomi dengan diterapkannya kenaikan tarif impor pekan depan. Ini merupakan penurunan dalam 4 bulan terakhir berturut-turut sejak terpilihnya Trump menjadi pemenang pemilu di bulan November tahun lalu. Kekhawatiran akan dampak dari kenaikan tarif impor yang mengarah pada pelambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi dikhawatirkan akan mengarah pada resesi. Biro peringkat Moody memperkirakan kekuatan fiskal AS akan berlanjut turun meneruskan tren beberapa tahun sebelumnya seiring dengan defisit anggaran yang semakin membesar dan hutang yang semakin membengkak sehingga sulit dikelola. Dengan asumsi ini di pasar membuat spekulasi bahwa Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk waktu yang lebih lama. Sebelumnya Gubenur Fed Atlanta – Raphael Bostic yang memperkirakan Fed hanya akan memangkas suku bunga acuannya hanya 1 kali sebanyak 25 bps di tahun ini. Hal senada dinyatakan oleh Gubernur Fed - Adriana Kugler yang mengatakan kebijakan moneter dalam hal ini suku bunga acuan saat ini sudah yang terbaik, namun untuk menuju target inflasi 2% sepertinya akan berjalan lambat dan data inflasi masih belum menunjukkan akan mencapai target tersebut. Gubernur Fed New York - John Williams di tempat lain mengatakan perusahaan dan rumah tangga saat ini menghadapi ketidakpastian yang sangat tinggi akan prospek ekonomi ke depan. Hal ini mengacu pada potensi dampak negatif dari agenda kenaikan tarif impor Presiden Trump. Yang mengalihkan perhatian dari agenda ekonomi lainnya seperti pengurangan dan kemudahan regulasi yang sempat dikampanyekan pada pemilu lalu. Hal yang kemungkinan akan kembali membuat dolar menguat yaitu repatriasi dolar menjelang akhir bulan dan akhir kuartal pertama tahun ini. Hari ini ada data Durable Goods Order.
Yen bergerak menguat terhadap dolar setelah sempat melemah hingga nilai terendah dalam 3 pekan terakhir. Dalam nota pertemuan moneter Bank Sentral Jepang (BOJ) pekan lalu yang dirilis semalam menunjukkan adanya diskusi mengenai laju kelanjutan kenaikan suku bunga acuan. BOJ pada pertemuan moneter pekan lalu menetapkan untuk mempertahankan suku bunga. Dalam pertemuan moneter sebelumnya BOJ sudah menaikkan suku bunga yang merupakan kenaikan tertinggi dalam 17 tahun terakhir. BOJ mengkhawatirkan ketidakpastian akan ekonomi global akibat agenda kenaikan tarif impor AS. Meskipun Jepang sepertinya akan dibebaskan dari agenda ini karena nilai investasi Jepang di AS yang cukup masif. Fundamental ekonomi berupa data inflasi dari BOJ masih relatif stabil 2.2% sesuai perkiraan sama seperti periode sebelumnya.
Euro terkoreksi terhadap dolar setelah sempat menguat oleh data sentimen bisnis IFO di Jerman yang menunjukan peningkatan dari 85.3 menjadi 86.7 yang hanya sedikit beda dari perkiraan naik 86.8. Sementara itu pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) sekaligus gubernur bank sentral Prancis - Francois Villeroy de Galhau mengatakan ECB masih bisa menurunkan suku bunga acuan lebih lanjut dan memungkinkan untuk menurunkan suku bunga acuan dari 2.5% saat ini hingga 2.0% di akhir musim panas tahun ini. Hal ini mengindikasikan ECB yang masih agresif menurunkan suku bunga acuan mengantisipasi pelambatan ekonomi akibat kebijakan kenaikan tarif impor dari AS. Hari ini tidak ada data ekonomi.
Poundsterling masih bergerak menguat terhadap dolar meskipun data di sektor ritel masih cenderung menurun dalam 8 bulan terakhir. Penguatan GBP mengantisipasi rilis data inflasi CPI dan juga pemaparan anggaran dari Menteri Keuangan - Rachel Reeves di depan parlemen malam ini. Diperkirakan inflasi relatif masih sama seperti periode sebelumnya sehingga Bank Sentral Inggris (BOE) tidak perlu agresif melakukan perubahan suku bunga untuk sementara waktu. Sedangkan dalam pemaparan anggaran, Reeves diharapkan akan memangkas pengeluaran pemerintah agar tidak melampaui aturan anggaran yang sudah ditetapkan. Jika hal ini terjadi maka GBP akan terus menguat dan jika sebaliknya akan membalikkan arah GBP menjadi lemah kembali.
Cek informasi lainnya di kanal resmi Agrodana Futures